Film Pesantren, Pembuka Madani Film Festival Dibuat untuk Luruskan Pemahaman

Film Pesantren menjadi pembuka Madani Film Festival yang berlangsung mulai 27 November – 4 Desember 2021. Film dokumenter yang berjudul A Boarding School dalam Bahasa Inggris itu, diputar di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, malam ini, Sabtu, 27 November 2021.

Sutradara Film Pesantren, Shalahuddin Siregar mengatakan karyanya ini bukan merupakan film agama. “Film ini menceritakan ada anak mau masuk SMP tapi enggak mampu bayar biaya seragam, makanya orang tuanya mengirim ke sekolah pesantren,” katanya saat konferensi pers penyelenggaraan Madani Film Festival yang digelar secara online kemarin, Jumat, 26 November 2021.

Shalahuddin mengaku terganggu dengan konotasi negatif tentang pesantren yang disebut mengajarkan terorisme. Ia menuturkan, saat film yang terpilih untuk ditayangkan di International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) 2019 ini ditonton, ada penonton yang beranggapan pesantren merupakan tempat belajar menjadi teroris. Padahal, ia justru membuat film itu untuk meluruskan pandangan yang keliru tersebut.

“Saya tinggal di Krapyak, Jogja. Di situ ada pesantren tradisional yang amat besar. Saya bertemu dengan mereka waktu makan di warung. Saya merasa sebagai orang Islam tidak cukup mengenal anak santri,” ujarnya.

Film Pesantren mengambil lokasi syuting di sebuah pesantren tradisional bernama Pondok Kebon Jambu Al-Islamy dengan 1.800 santri dan dipimpin oleh perempuan. Pesantren digarap dengan melakukan pendekatan observasional dan berpusat pada kisah dua santri dan dua guru muda.

Dikutip dari unggahan akun Instagram Madani Film Festival pada Jumat, 26 November 2021, Pesantren menyorot kehidupan Bibah, seorang guru kesenian, Dika, santri senior yang terpilih menjadi kepala kamar, Dul Yani, sang juara bertahan kompetisi stand up comedy tahunan di sekolah itu, dan Diding, guru muda yang juga kepala departemen pendidikan. “Film ini muncul dengan caranya sendiri, disajikan melalui adegan intim dan menyentuh hati,” tulis akun ini pada keterangan unggahan cuplikan adegan film itu.

Shalahuddin menuturkan, ia mulai mengembangkan proyek film ini pada 2015. Pembuatannya mendapatkan dukungan dari In-Docs, Steps International, Kedutaan Denmark di Jakarta, Talents Tokyo, serta dua stasiun TV internasional, NHK dan Al Jazeera Documentary Channel.

Garin Nugroho, Board of Madani Film Festival menuturkan, film Pesantren dipilih menjadi pembuka festival ini untuk merayakan peradaban, keberagaman, dan toleransi di Indonesia. “Sesuai tema festival ini, sufism and humor, kita perlu merayakan keberagaman sebagai jalan menuju madani,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.